Kamis, 07 Mei 2009

Kisah Seorang Ibu Bermata Satu

Kisah Seorang Ibu Bermata Satu
(Seorang sahabat menerjemahkan dari
versi aslinya the Story of The One-Eyed
Mother")

Ibuku hanya memiliki satu mata.
Aku membencinya dia sungguh membuatku
menjadi sangat memalukan.

Dia bekerja memasak buat para murid dan
guru di sekolah untuk menopang keluarga.
Ini terjadi pada suatu ketika aku duduk
di sekolah dasar dan ibuku datang. Aku
sungguh dipermalukan. Bagaimana bisa ia
tega melakukan ini padaku? Aku membuang
muka dan berlari meninggalkannya saat
bertemu dengannya.

Keesokan harinya di sekolah

Ibumu bermata satu?!?!� ?.
eeeee ejek seorang teman.
Akupun berharap ibuku segera lenyap dari
muka bumi ini.

Jadi kemudian aku katakan pada ibuku,
Ma kenapa engkau hanya memiliki satu
mata?! Kalau engkau hanya ingin aku
menjadi bahan ejekan orang-orang ,
kenapa engkau tidak segera mati
saja?!!!� ?

Ibuku diam tak bereaksi.

Aku merasa tidak enak, namun disaat yang
sama, aku rasa aku harus mengatakan apa
yang ingin aku katakan selama ini
Mungkin ini karena ibuku tidak pernah
menghukumku, akan tetapi aku tidak
berfikir kalau aku telah sangat melukai
perasaannya.

Malam itu

Aku terjaga dan bangun menuju ke dapur
untuk mengambil segelas air minum.
Ibuku sedang menangis disana
terisak-isak, mungkin karena khawatir
akan membangunkanku. Sesaat kutatap ia,
dan kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah aku mengatakan perasaanku
sebelumnya padanya, aku merasa tidak
enak dan tertekan. Walau demikian, aku
benci ibuku yang menangis dengan satu
mata. Jadi aku bertekad untuk menjadi
dewasa dan menjadi orang sukses .

Kemudian aku tekun belajar. Aku
tinggalkan ibuku dan melanjutkan studiku
ke Singapore.

Kemudian aku menikah. Aku membeli
rumahku dengan jerih payahku. Kemudian,
akupun mendapatkan anak-anak, juga.

Sekarang aku tinggal dengan bahagia
sebagai seorang yang sukses. Aku
menyukai tempat tinggal ini karena
tempat ini dapat membantuku melupakan ibuku.

Kebahagiaan ini bertambah besar dan
besar, ketika

Apa ?! Siapa ini?!

Ini adalah ibuku Masih dengan mata
satunya. Aku merasa seolah-olah langit
runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku
lari ketakutan melihat ibuku yang
bermata satu.

Aku bertanya padanya, Siapa kamu?!. Aku
tidak mengenalmu!! !� ? kukatakan
seolah-olah itu benar. Aku memakinya,
Berani sekali kamu datang ke rumahku
dan menakut-nakuti anak-anakku! KELUAR
DARI SINI!! SEKARANG JUGA!!!� ?.

Ibuku hanya menjawab, Oh, maafkan aku.
Aku mungkin salah alamat.� ?
Kemudian ia berlalu dan hilang dari
pandanganku.

Oh syukurlah Dia tidak mengenaliku. Aku
agak lega. Kukatakan pada diriku kalau
aku tidak akan khawatir, atau akan
memikirkannya lagi. Dan akupun menjadi
merasa lebih lega

Suatu hari, sebuah undangan menghadiri
reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku
di Singapore. Jadi, aku berbohong pada
istriku bahwa aku akan melakukan
perjalanan dinas. Setelah menghadiri
reuni sekolah, aku mengunjungi sebuah
gubuk tua, dulu merupakan rumahku Hanya
sekedar ingin tahu saja.

Di sana , aku mendapati ibuku terjatuh
di tanah yang dingin. Tapi aku tidak
melihatnya ia mengeluarkan air mata. Ia
memegang selembar surat ditangannya
Sebuah surat untukku.

Anakku
Aku rasa hidupku cukup sudah kini
Dan aku tidak akan pergi ke Singapore lagi
Tapi apakah ini terlalu berlebihan bila
aku mengharapkan engkau yang datang
mengunjungiku sekali-kali? Aku sungguh
sangat merindukanmu

Dan aku sangat gembira ketika kudengar
bahwa engkau datang pada reuni sekolah .
Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke
sekolahan. Demi engkau

Dan aku sangat menyesal karna aku hanya
memiliki satu mata, dan aku telah sangat
memalukan dirimu.

Kau tahu, ketika engkau masih kecil,
engkau mengalami sebuah kecelakaan, dan
kehilangan salah satu matamu. Sebagai
seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam
melihat engkau akan tumbuh besar dengan
hanya memiliki satu mata. Jadi kuberikan
salah satu mataku untukmu

Aku sangat bangga akan dirimu yang telah
dapat melihat sebuah dunia yang baru
untukku, di tempatku, dengan mata
tersebut. Aku tidak pernah merasa marah
dengan apa yang kau pernah kau lakukan
Beberapa kali engkau memarahiku

Aku berkata pada diriku, Ini karena ia
mencintaiku

Teman-temanku

Pesan (di atas) ini sungguh memiliki
sebuah arti yang sangat mendalam dan
dikirim untuk mengingatkan banyak orang
bahwa kebaikan yang telah mereka nikmati
selama ini adalah berkat seseorang,
entah secara langsung maupun tidak langsung.
Renungkan sesaat dan lihatlah dirimu!.

Berterima kasihlah akan apa yang kamu
miliki saat ini dibandingkan dengan
jutaan orang yang tidak memiliki
kehidupan seperti yang engkau peroleh
saat ini !

Bawalah (selalu) ibumu dalam doa di
mana saja engkau berada !�?

------

The Story of the One-Eyed Mother

My mom only had one eye.
I hated her... she was such an
embarrassment. ..
She cooked for students & teachers...to
support the family.
There was this one day during elementary
school and my mom came.
I was so embarrassed. How could she do
this to me?
I threw her a hateful look and ran out.

The next day at school...
"Your mom only has one eye?!?!"...eeeee
said a friend.
I wished my mom would just disappear
from this world.
So I said to my mom, "Mom... Why don't
you have the other eye?!
If you're only gonna make me a laughing
stock, why don't you just
die?!!!"

My mom did not respond...
I guess I felt a little bad, but at the
same time, it felt good to
think that I had said what I'd wanted to
say all this time...
Maybe it was because my mom hadn't
punished me, but I didn't think
that I had hurt her feelings very badly.

That night...
I woke up, and went to the kitchen to
get a glass of water.
My mom was crying there, so quietly, as
if she was afraid that she
might wake me.
I took a look at her, and then turned away.
Because of the thing I had said to her
earlier, there was something
pinching at me in the corner of my heart.
Even so, I hated my mother who was
crying out of her one eye.
So I told myself that I would grow up
and become successful.

Then I studied real hard. I left my
mother and went to Singapore to
study.

Then, I got married. I bought a house of
my own. Then I had kids,
too...
Now I'm living happily as a successful man.
I like it here because it's a place that
doesn't remind me of my mom.

This happiness was getting bigger and
bigger, when...

What?! Who's this?!
It was my mother...Still with her one eye.
I felt as if the whole sky was falling
apart on me.
Even my children ran away, scared of my
mom's eye.
And I asked her, "Who are you?!" "I
don't know you!!!" as if trying to
make that real.
I screamed at her, "How dare you come to
my house and scare my
children!"
GET OUT OF HERE! NOW!!!"

And to this, my mother quietly answered,
"Oh, I'm so sorry.
I may have gotten the wrong address,"
and she disappeared out of sight.

Thank goodness... She doesn't recognize
me. I was quite relieved.
I told myself that I wasn't going to
care, or think about this for the
rest of my life.
Then a wave of relief came upon me...

One day, a letter regarding a school
reunion came to my house in
Singapore.
So, lying to my wife that I was going on
a business trip, I went. After
the reunion, I went down to the old
shack, that I used to call a
house... Just out of curiosity

There, I found my mother fallen on the
cold ground. But I did not shed
a single tear.
She had a piece of paper in her
hand....It was a letter to me.

"My son...
I think my life has been long enough now...
And... I wont visit Singapore anymore...
But would it be too much to ask if I
wanted you to come visit me once
in a while? I miss you so much..
And I was so glad when I heard you were
coming for the reunion. But I
decided not to go to the school.
For you...
And I'm sorry that I only have one eye,
and I was an embarrassment for
you.

You see, when you were very little, you
got into an accident, and lost
your eye.
As a mom, I couldn't stand watching you
having to grow up with only one eye...
So I gave you mine...
I was so proud of my son that was seeing
a whole new world for me, in
my place, with that eye.
I was never upset at you for anything
you did..
The couple times that you were angry
with me.. I thought to myself,
'It's because he loves me..'
My son... Oh, my son... "

This message has a very deep meaning and
is passed to remind people of
the goodness they have enjoy was because
of others directly or
indirectly.
Pause a moment and consider your life!
Be thankful of what you have today
compared to many millions who do not
live lives as you do!

Tidak ada komentar: